ARAHAN TERAKHIR GUBERNUR AKPOL

 
Pada Apel Pagi, dihadiri DKU, Instruktur, Pelatih, Pengasuh & Seluruh Staf

Semarang, 15 Oktober 2026

Assalamu’alaikum wr wb,

Salam sejahtera bagi kita semua,

Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, salam sehat, kompak dan

Salam Warasss

Yg saya hormati para DKU, Wagub, PJU, Instruktur, Pelatih, Para Pengasuh, & seluruh keluarga besar Akpol yg saya cintai & saya banggakan.

Pagi ini saya berdiri di hadapan rekan2 semua dgn perasaan yg berbeda.

Biasanya, kalau saya berdiri di sini, yg ada dalam pikiran saya adalah apa yg harus kita perbaiki, apa yg harus kita tingkatkan, apa yg harus kita capai, apa yg harus kita lakukan utk Akpol & utk Polri yg kita cintai.

Tetapi pagi ini, pemikiran saya sedikit berbeda, krn saya tahu ini adlh apel pagi terakhir saya sebagai Gub Akpol, & saya akan mengakhiri masa tugas saya.

Saya akn meninggalkan jabatan ini.

Saya akn meninggalkan ruangan kerja saya.

Saya akn meninggalkan rutinitas yg selama ini begitu akrab dgn kehidupan saya.

Saya tdk lagi akn mendengar laporan spt biasanya. Tdk lagi setiap pagi bertanya ttg kesiapan pendidikan. Tdk lagi setiap hari melihat dinamika taruna. Tdk lagi setiap saat memikirkan persoalan Akpol dari kursi Gubernur.

Dan saya sadar, ada satu masa dlm kehidupan seorang manusia ketika harus belajar melepaskan sesuatu yg sangat dicintai.

Hari ini adlh salah satunya bagi saya.

Selama mnjd aggt Polri, kita terbiasa berdiri tegak. Kita terbiasa memberikan perintah.

Kita terbiasa menunjukkan ketegasan.

Kita terbiasa menyembunyikan rasa lelah.

Bahkan kadang2 kita terbiasa menyembunyikan perasaan.

Karena seorang polisi dituntut kuat.

Seorang perwira dituntut tegas.

Seorang jenderal dituntut mampu berpikir, mengambil keputusan, mungkin juga ada yang shok hebat dan shok kuasa.

Tetapi pagi ini saya menyadari bahwa Saya juga manusia biasa.

Saya pernah lelah. Saya pernah kecewa. Saya pernah salah. Saya pernah marah. Saya pernah membuat keputusan yg mungkin tdk menyenangkan semua orang.

Dan saya pernah pulang dari pekerjaan dgn membawa banyak pikiran.

Tetapi satu hal yang selalu saya tahu bahwa sebenarnya saya mencintai pekerjaan ini. Saya mencintai profesi ini. Saya mencintai Polri & saya mencintai Akpol, krn di tempat inilah kita tdk hanya bekerja, di tempat inilah kita menanam dan membangun masa depan sebuah institusi.

Saudara-saudaraku,

Kalau pagi ini saya harus menyebut satu kalimat yang paling penting, kalimat itu adalah TERIMA KASIH, Matur sembah nuwun, Mauliate, Thank You.

Terima kasih kpd kawan2 semua.

Terima kasih kpd semuanya yg selama ini mendukung saya. Terima kasih kpd pribadi yg pernah mengingatkan saya. Terima kasih kpd mereka yg pernah berbeda pendapat dgn saya.

Terima kasih kpd mereka yg mungkin tdk selalu setuju dgn saya, tetapi tetap menjalankan tugas dgn baik. Karena saya sadar seorang pemimpin tdk pernah bekerja sendirian, & itu tdk mungkin.

Kalau selama ini ada keberhasilan, itu bukan keberhasilan Gubernur, Itu adlh keberhasilan kita semua. Kalau ada kemajuan, itu karena ada dosen/Gadik yg mengajar. Ada instruktur yg melatih, Ada pelatih yg membentuk. Ada pengasuh yg membina & sbg mentor. Ada pula staf yg bekerja. Ada orang-orang yg mungkin namanya tidak pernah disebut, tetapi setiap hari bekerja dgn diam & sendirian.

Dan kepada saudara-saudara yang bekerja dgn diam & sendirian itu saya ingin mengatakan saya sesungguhnya tahu & melihat saudara. Orang Papua bilang “sa bodo, tapi sa tau”

Saya tahu ada yang datang ketika matahari belum terbit. Saya tahu ada yg pulang ketika sebagian besar org sdh berada di rumah.

Saya tahu ada yg meninggalkan keluarga demi tugas. Saya tahu ada yg menyimpan persoalan pribadi tetapi tetap berdiri tegak melaks tggjwb.

Dan saya tahu itulah pengabdian.

Pengabdian tdk selalu terlihat, tdk selalu difoto,

tdk selalu masuk laporan, tetapi Tuhan melihatnya, & saya percaya tdk ada pengabdian yg sia-sia.

Rekan2 sekalian,

Semua dari kita tanpa terkecuali, suatu hari akn sampai pada titik spt saya hari ini. Hari ini saya yg berdiri di sini, besok orang lain, lusa mungkin generasi berikutnya. Karena itulah hukum kehidupan.

Kita datang, kita bekerja, kita mengabdi, kemudian kita pergi.

Jabatan kita tdk selamanya, pangkat kita tdk abadi, kekuasaan kita ada batasnya,

bahkan tubuh kita ini pun tdk bertahan lama.

Yg bertahan lama hanyalah apa yg kita tinggalkan di dm kehidupan org lain. 

Itulah sebabnya saya sering mereka-reka ttg Apa yg sebenarnya yg bisa diwariskan, ternyata

Bukan gedung, bukan kendaraan dinas, bukan ruang kerja, bukan jabatan, bukan papan nama, karena semua itu sementara & akan berganti.

Tetapi kalau semasa kita mengabdi di Akpol ada taruna yg menjadi lbh baik krn nasihat kita, ada  taruna yg menjadi lbh disiplin krn keteladanan kita, ada taruna yg tdk jadi melakukan kesalahan krn teguran kita, & ada taruna yg mampu melayani masyarakat dgn baik krn kita mengajarkan kpdnya arti pelayanan, maka kita sdh meninggalkan sesuatu, & sesuatu itu jauh lbh besar drpd jabatan.

Saya ingin menitipkan satu pesan kpd para Gadik(dosen, istruktur, pelatih).

Jgn pernah merasa bahwa pekerjaan-mu hanya mengajar dan melatih semata,  saudara sdg membentuk dan membangun manusia. Setiap hari kita berhadapan dgn anak2 muda yg kelak akn memegang jabatan & kewenangan negara. Mereka akn membawa senjata, Mereka akn memiliki kewenangan. Mereka akn mengambil keputusan yg menyangkut kehidupan org lain.

Karena itu, jgn hanya ajarkan kpd mereka bgmn menjadi polisi yg pintar, Ajarkanlah kpd mereka bgmn mnjd manusia yg benar, Ajarkan kpd mereka bahwa pangkat bkn alasan utk merendahkan org lain,  kewenangan bkn izin utk berlaku sewenang2, kekuatan bkn alasan utk melakukan kekerasan & keberhasilan bkn alasan utk kehilangan kerendahan hati & jati diri.

Kpd para Pengasuh.

Krn saya tahu pekerjaan pengasuh sering kali tdk terlihat, tetapi pengasuh menyentuh kehidupan taruna dgn cara yg sgt dlm. Mereka tdk hanya melihat taruna ketika sdg kuat, tp juga ketika sdg lemah. Mereka tdk hanya melihat ketika taruna berhasil, tp juga ketika taruna gagal. Mereka tdk hanya melihat ketika taruna tersenyum, tp juga ketika taruna mungkin sedih & menangis diam2.

Para pengasuh, jadilah org yg mereka ingat ketika mereka sdh menjadi perwira nanti.

Bukan krn saudara paling keras atau sadis, tp krn saudara pernah mnjd org yg membuat mereka berkata “Dulu ada se-org pengasuh yg perhatiannya tdk pernah menyerah kpd saya.” Itulah esensi pengasuhan.

Ketika Kita mengajarkan disiplin, kita melakukan dgn ketat dan ketegasan dgn standar yg tinggi. Tetapi jgn sampai kita lupa bahwa keras tdk sama dgn kekerasan.

Kita boleh keras terhadap aturan.

tp jgn keras thdp martabat manusia.

Kita boleh tegas thdp kesalahan, tp jangan kehilangan kasih kpd org yg melakukan kesalahan.

Krn tujuan pendidikan bkn membuat org takut kpd kita. Tujuan pendidikan adlh membuat seseorang mampu berkata “Saya melakukan yg benar meskipun tdk ada org yg mengawasi saya.” Kalau itu sdh terjadi, berarti pendidikan kita berhasil.

Teman2 sekalian,

Saya sadar saya adlh manusia biasa, penuh dgn keterbatasan, saya bkn pemimpin yg sempurna.

Selama memimpin Akpol(+ 7 bulan), pasti ada keputusan yg krg tepat, ada perkataan yg terlalu keras, ada teguran yg mungkin membuat hati tdk nyaman. Ada kebijakan yg mungkin belum mampu saya jelaskan dgn baik, ada yg mungkin pernah merasa kecewa kpd saya, ada yg mungkin pernah merasa tdk saya pahami.

Utk semua itu, saya meminta maaf, bkn sbg Gubernur, tp sbg sesama pribadi & manusia.

Kalau saya pernah menyakiti hati mu, maafkan saya. Kalau saya pernah terlalu keras, maafkan saya. Kalau saya pernah salah memahami, maafkan saya. Dan saya juga ingin mengatakan saya tdk membawa satu pun kemarahan saya keluar dari Akpol ini. Saya tdk ingin pergi membawa dendam. Saya tdk ingin pergi membawa kekecewaan. Saya ingin pergi dgn hati yg ringan. Dan saya berharap, kawan2 juga melepas saya nanti dgn hati yg ringan.

Kita semua shh cukup lama hidup dm institusi Polri ini, saya maklum diantara kita mesti memiliki banyak perbedaan, kita bisa saja salah faham. Kadang2 ego bertemu dgn ego, tp pd akhirnya saya sadar, bahwa kita semua hanya sdg menjalankan bagian kita dlm sebuah perjalanan yg jauh lbh besar drpd diri kita sendiri. Maka kalau ada yg belum selesai dan blm move on, kita selesaikan dgn baik. Kalau ada yg masih mengganjal, lepaskanlah.

Kalau ada yg harus dimaafkan, maafkanlah.

Krn suatu hari nanti, kita akn sampai pd tempat di mana pangkat dan jabatan tdk lagi penting.

Dan ketika itu terjadi, kita akn lbh menghargai persahabatan drpd kemenangan dlm sebuah perdebatan.

Kalau boleh saya mengatakan sesuatu tentang  almamater Akpol, maka saya ingin mengatakan terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup saya.

Akpol bkn hanya tempat saya bekerja, Akpol sdh mnjd bagian dari perjalanan hidup saya. Saya ditempa di sini, di awal-awal karier saya pernah jadi Dantontar, Dankitar, dan mengakhiri karier  sebagai Gub Akpol.

Di sini saya melihat anak2 muda hebat datang dgn cita2, di sini mereka ditempa. Di sini saya melihat mereka jatuh, Bangkit, Gagal.

Lalu mencoba lagi. Kemudian suatu hari,

mereka berdiri tegak dengan seragam perwira, & menjadi bahan renungan betapa besar tggjwb kita.

Krn setiap perwira yg keluar dari gerbang Akpol,

membawa nama institusi, membawa nama keluarga, membawa nama Polri & membawa harapan bangsa.

Harapan saya, setelah pergi, tolong kita semua menjaga Akpol ini. Jaga marwahnya, Jaga tradisinya, Jaga kedisiplinannya, Jaga pendidikannya, dan juga jaga hatinya.

Jangan biarkan Akpol hanya menjadi tempat yg menghasilkan perwira yg pintar, tp Jadikan Akpol tempat yg menghasilkan perwira yg layak dipercaya.

Krn bangsa ini tdk hanya membutuhkan polisi yg cerdas. Bangsa ini butuh polisi yg berani tetapi tdk kasar, tegas tp tdk sewenang2,

cerdas tetapi tdk sombong, kuat tetapi tetap manusiawi, memiliki kewenangan tetapi mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Rekan2 sekalian,

Sebentar lagi akn ada Gubernur yg baru.

Saya ingin saudara2 mendukung beliau.

Tdk usah bandingkan dgn saya, tdk perlu mengatakan “Dulu zaman Pak DTM begini, begitu” Karena setiap pemimpin mempunyai zamannya. Setiap pemimpin mempunyai tantangannya. Berikan kpd pemimpin berikutnya kesempatan utk membawa Akpol ke arah yg lbh baik. Kalau saya meninggalkan satu hal, biarlah itu bkn nama saya, biarlah yg tinggal adlh Akpol yg lebih baik, Itulah ukuran keberhasilan saya.

Saya juga ingin menitipkan pesan kpd rekan2 yg lebih muda.

Nikmati masa pengabdian saudara, Jgn terlalu cepat ingin sampai, krn suatu hari nanti, saudara akan melihat bahwa perjalanan itu ternyata sngt cepat.

Dulu kita msh muda, kita mengejar pangkat,

Mengejar jabatan, Mengejar kesempatan, e…

Tiba-tiba sdh habis, waktu berjalan sgt cepat, dan tdk bisa mengulanginya, ada kata bijak mengatakan “you’ll never step on the same water”.

Dan sekarang saya berdiri di sini, hari2 terakhir sbg Gubernur, hari2 terakhir sbg pejabat aktif.

Dan saya bertanya kpd diri saya sendiri “Ke mana perginya waktu itu?”

Ternyata, waktu tdk pernah menunggu kita.

Karena itu, selagi msh diberi kesempatan bekerjalah dgn sebaik2nya spt utk Tuhan.

Kalau memimpin, pimpinlah dgn hati.

Kalau mendidik, didiklah dgn keteladanan.

Kalau menegur, tegur dgn kasih.

Kalau mempunyai kewenangan, gunakan dgn bijaksana, & kalau suatu hari saudara mendapatkan jabatan tinggi, jgn lupa bagaimana rasanya ketika dulu saudara berada di bawah, Itu sgt penting.

Rekan2 sekalian,

Selama (36 tahun + 3 tahun jadi Taruna) saya mengenakan seragam. Seragam itu mnjd identitas.

Ketika orang melihat, mereka melihat pangkat, Melihat tanda jabatan, Melihat melati, bintang.

Melihat kewenangan, Tetapi sebentar lagi, saya akn melepaskan semuanya, & ketika seragam itu dilepas, saya tetap harus menjadi manusia yg sama.

Maka saya belajar satu hal jgn sampai saya terlalu mencintai jabatan shg saya lupa mencintai manusia. Karena jabatan akn pergi,

pangkat akn berhenti, tetapi karakter ikut bersama kita sampai akhir kehidupan.

Suatu hari nanti, tdk ada lagi yg berdiri memberikan penghormatan ketika saya datang.

Tdk ada lagi protokol, tdk ada lagi ajudan, tdk ada lagi kendaraan dinas, tdk ada lagi ruang Gubernur, tdk ada lagi meja dgn nama saya.

Dan saya kira itu tidak apa2, krn akhirnya kita kembali kpd hakikat kita yaitu Manusia biasa, atau akan disebut Purnawirawan, atau pak Pur.

& pada saat itu saya berharap ketika seragam dilepas, ketika pangkat tidak lagi disebut,

ketika jabatan tidak lagi ada, org msh dpt berkata “Beliau orang baik.”

Bagi saya, mungkin itulah pangkat terakhir yg paling saya inginkan, bkn bintang di pundak.

Bukan jabatan atau gelar di belakang nama, tp “nama baik di hati orang lain”.

Kalau selama ini saya pernah berdiri di depan rekan2 selaku Gubernur,  maka hari ini saya ingin berdiri di depan saudara sbg seorang sahabat, sbg seorang senior, sbg seorang yg pernah berjalan bersama, & saya ingin mengatakan Saya bangga pernah bersama teman2 semua, Saya bangga pernah mnjd bagian dari perjalanan Akpol, saya bangga pernah melihat bgmn saudara bekerja.

Saya bangga pernah melihat bgmn saudara menjaga pendidikan, dan saya bangga pernah dipercaya memimpin tempat yg begitu prestisius & penting bagi masa depan Polri.

Kawan2 semua,

Tdk lama lagi saya akn meninggalkan tempat ini.

Mungkin setelah beberapa hari, saya tdk lagi berdiri di depan saudara seperti sekarang.

Tetapi percayalah, ada sebagian hati saya yg akn tetap tinggal di sini, di lapangan ini, di kelas-kelas sana, di tempat latihan, di tempat para pengasuh mendampingi taruna, di lorong2 flat taruna, di setiap tempat dmn kita pernah bekerja bersama.

Saya mungkin akn pergi dari Akpol, tetapi Akpol tidak akn pernah benar2 pergi dari hidup saya.

Memang ada tempat2 yg akan saya tinggalkan, dan ada tempat yang sudah terlanjur menjadi bagian dari diri saya Akpol adlh salah satunya.

Kawan2ku sekalain,

Saya tidak tahu apakah setelah ini saya akan mempunyai kesempatan berdiri di hadapan saudara spt pagi ini, Karena itu, izinkan saya menyampaikan kalimat terakhir saya dgn sangat sederhana.

Terima kasih sdh menerima saya.

Terima kasih sdh bekerja bersama saya.

Terima kasih sdh mengingatkan saya ketika saya salah.

Terima kasih sdh mendukung saya ketika saya membutuhkan dukungan.

Dan Saya minta maaf untuk segala kekurangan saya.

Saya pergi bkn krn tdk mencintai tempat ini,

krn memang setiap perjalanan memiliki waktunya.

Dan saya percaya, setiap orng mempunyai waktunya.

Ada waktu untuk datang, Ada waktu untuk bekerja, Ada waktu utk memimpin & ada waktu untuk melepaskan. Hari ini, adlh waktu saya utk melepaskan.

Saudara-saudaraku…

Kalau nanti suatu hari saudara mengingat saya

jangan ingat saya hanya sebagai Gubernur.

Jangan ingat saya hanya sebagai seorang jenderal. Ingatlah saya sbg seorang manusia yg pernah berusaha memberikan yg terbaik yg saya miliki utk Akpol.

Saya sadar jauh dari sempurna, saya juga sadar saya pernah salah, tetapi saya selalu berusaha utk memperbaiki.

Mungkin saya pernah terlalu keras, tetapi di balik ketegasan itu ada kecintaan yg sgt besar kpd institusi ini.

Dan akhirnya, kepada Tuhan Yg Maha Kuasa saya serahkan seluruh perjalanan ini.

Apa yg baik, kiranya menjadi berkat.

Apa yg kurang, kiranya diperbaiki oleh generasi berikutnya.

Thdp kesalahan yg pernah saya lakukan, kiranya Tuhan mengampuni semua.

Semoga Tuhan yg maha baik,

Menjaga & memberkati kita sekalian.

Menjaga keluarga kita, Menjaga anak2 kita.

Menjaga setiap hari-hari kita kedepan.

kita semua tetap sehat, tetap kuat, tetap rendah hati, tetap berintegritas & tetap menjadi teladan.

Saya pamit.

Bukan karena saya berhenti mencintai.

Tetapi krn saya percaya cinta kpd sebuah institusi tidak harus selalu diwujudkan dgn tetap berada di dalamnya.

Kadang-kadang, cinta justru berarti mampu mengatakan “Sekarang giliran generasi berikutnya melanjutkan.”

Saya serahkan Akpol kepada kawan2 semua.

Jaga baik2, Jangan hanya jaga bangunannya. Jagalah jiwanya, Jangan hanya jaga tradisinya Jagalah nilai-nilainya, Jangan hanya mencetak perwira, tp bentuklah manusia2 yg layak hebat & dpt dipercaya.

Karena pada akhirnya bangsa ini tdk hanya akn bertanya “Seberapa hebat polisi kita?” tetapi akn bertanya “Apakah Polisi kita dpt dipercaya?”

& jawaban atas pertanyaan itu sedang kita bangun hari ini di Akpol.

Terima kasih, saatnya nanti saya akan pamit.

Kiranya persaudaraan kita tetap ada.

Kiranya doa kita tetap tersambung.

Bilamana suatu saat nanti kita bertemu kembali, kita tdk perlu lagi berbicara ttg jabatan.

Kita cukup saling tersenyum, dan berkata

“Kita pernah berjalan bersama.” Itu sdh cukup.

Jayalah selalu Akademi Kepolisian.

Jayalah selalu Kepolisian Negara Republik Indonesia. Untuk Indonesia.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Shalom, om Shanti, Shanti, Shanti om

Nammo budhaya, salam Kebajikan

Horas…